BAGI sebagian orang, 2011 adalah tahun yang penuh air mata. Bagi sebagian lagi, tahun lalu mungkin penuh kebahagiaan dengan capaian yang luar biasa. Atau, bagi sebagian orang lainnya, 2011 bukanlah tahun yang istimewa (baca: stagnan dengan tahun-tahun sebelumnya).
Setiap orang pasti punya cerita sendiri-sendiri di tahun 2011. Ada yang berduka, ada yang bersuka, pun ada yang biasa-biasa saja. Tak hanya orang per orang, Indonesia juga punya cerita, cerita suka dan cerita duka, sepanjang 2011.
Indonesia bersuka cita ketika akhir tahun ini, tepatnya pada November, Indonesia meraih prestasi gemilang di Sea Games XXVI. Indonesia berduka ketika kondisi karut marut dunia politik dan sosial tak kunjung reda, malah semakin menjadi. Pemberantasan korupsi yang merupakan amanah reformasi seakan tak menemukan akhir, selalu saja muncul lagi, muncul lagi.
Indonesia berduka karena para penegak hukum malah melanggar hukum itu sendiri. Indonesia berduka ketika tahun ini dipenuhi kerusuhan dan konflik, sebut saja kasus Mesuji dan kerusuhan Bima. Belum lagi yang lainnya. Bencana alam dan kasus kecelakaan transportasi pun menambah cerita duka di tahun 2011 yang telah kita tinggalkan.
Pertanyaannya, lebih banyak mana, cerita suka atau cerita duka yang dituliskan Indonesia (baca: Bangsa Indonesia) sepanjang 2011?
Ah sudahlah, 2012 sudah datang. Dan kiamat? Dunia sempat dibuat ‘berguncang’ dengan pemberitaan berbagai media massa tentang rumor dan ramalan ‘Kiamat 2012’.
"Oh Tuhan, janganlah Engkau jadikan kiamat itu benar-benar terjadi tahun 2012 nanti sebab masih banyak impianku yang akan kuraih di tahun itu!" Ini doa saya ketika mendengar rumor yang dulu kian menyebar dan gempar. Benar atau tidak rumor ini, hanya Tuhan yang tahu.
Masih sangat kuat di ingatan, rumor ini dikaitkan dengan ramalan Bangsa Maya yang menyatakan, penanggalan di kalender mereka akan berhenti pada 2012. Belum lagi, kala itu, ramalan tersebut juga dikuatkan dengan prediksi-prediksi ilmiah tentang kondisi ‘alam dan langit’ di tahun 2012. Dan parahnya, sampai ada isu tentang bunuh diri massal.
Kemudian, banyak media menampilkan sosok paranormal dengan berbagai ramalan yang menguatkan rumor ini. Sebut saja Mama Lauren. Dia dulu mengatakan tidak bisa melihat gambaran yang akan terjadi pada 2012. Saat itu, opini masyarakat pun seakan digiring pada simpulan, itu artinya sudah kiamat. Nyatanya, Mama Lauren meninggal dunia sebelum 2012. Maka, wajar jika dia tidak dapat melihat 'gambaran' apa pun tentang 2012.
Saya tergelitik dengan sebuah gagasan bahwa menyambut 2012 adalah menyambut kiamat. Ya, jika kita coba kembalikan kepada "Berita dari Tuhan" , tak satu pun dikabarkan tentang kapan waktu pasti datangnya kiamat. Siapa kita sehingga bisa meramalkan? Sebuah optimisme pun muncul, ketika kita memiliki fondasi religi yang kuat.
Ah, sudahlah, berhenti memikirkan ‘kiamat 2012’. Lebih baik kita susun impian-impian kita untuk tahun Naga Emas itu. Sudahkah kita membuat resolusi tahun baru, kemudian menuliskannya dan memajangnya di dinding-dinding kamar kita? Kalau belum, mari kita buat.
Pertama, mari kita berharap bahwa 2012 adalah tahun ketika benar-benar akan terjadi kiamat. Tetapi, ini bukanlah kiamat yang akan mengakhiri putaran roda waktu alam semesta serta sejarah yang senantiasa tertulis tiap detiknya. Kiamat pada 2012 adalah kiamat untuk segala kedukaan yang melanda. Utamanya kiamat untuk yang membuat Indonesia berduka. Kiamat untuk yang merampas hak rakyat sampai taraf hidup mereka tak ada peningkatan; yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
Semoga saja kiamat terjadi untuk semua korupsi, keserakahan, dan ketidakadilan di negeri ini pada 2012 nanti, untuk kemudian berganti menjadi keadilan dan kejujuran yang menghiasi negeri ini beserta orang-orangnya. Indahnya jika kiamat yang ini benar-benar terjadi.
Kedua, sebuah harapan yang benar-benar bertumpu kepada pemerintah, kaum intelektual, militer, dan rakyat pada umumnya, adalah sebuah impian agar bangsa ini benar-benar memiliki negerinya sepenuhnya di tahun 2012 nanti. Indonesia akan menjadi luar biasa seperti sejarahnya jika impian kedua ini tercapai. Rakyat tak akan terzalimi lagi. Cukup sudah 'penjajahan' ini melanda negeri.
Ketiga, semoga saja kegoncangan identitas, atau krisis jati diri yang melanda bangsa ini segera usai. Semoga kita menemukan titik ledak dan meraih identitas yang asli di tahun 2012.
Fakta yang ada menunjukan terjadinya dekadensi moral di kalangan anak muda Tanah Air. Sebenarnya tidak hanya anak muda, generasi yang lebih tua pun begitu. Hanya saja yang menjadi sorotan adalah anak muda.
Fenomena kehilangan jati diri bisa kita temui di kalangan orangtua kita pada tingkat pemerintahan. Krisis kejujuran melanda, hingga banyak praktik suap dan korupsi yang terjadi. Pada tataran sosial masyarakat, banyak konflik terjadi, baik yang berlatar belakang agama, kesukuan, atau lainnya.
Kalau saja orang-orang bangsa ini berhasil menemukan jati dirinya, maka ada harapan cerah bagi Indonesia ke depannya. Semoga di tahun 2012 ini terjadi.
Sudah tiga resolusi yang kita buat dalam tulisan ini, rasanya cukup terwakili dengan dua kata: moral dan identitas. Kalaulah moral kita makin membaik, kejujuran dijunjung tinggi, hukum dan HAM benar-benar ditegakkan, ada rasa saling menghargai sesama, dan sikap moral ideal lainnya, resolusi itu bisa diwujudkan semua orang. Indah nian….
Sebagai penutup, mari kita benar-benar berharap akan terjadinya kiamat di tahun 2012, kiamat yang bukan akhir dari cerita alam semesta, tapi akhir dari cerita duka negeri ini, negeri Indonesia….
oke2..
siiiiiiiiiippppppp... !!
Kamis, 05 Januari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar